TODAY ECONOMY OUTLOOK PREPARE FOR SECOND WAVE COVID-19

image
By On Wednesday, October 07 th, 2020 · no Comments · In , ,

Sampai dengan posisi 1 Oktober, total kasus covid-19 di dunia masih meningkat. Tercatat jumlah kasus covid-19 sebanyak 34,1 juta orang. Dengan tingkat kematian sebesar 2,98% atau sebanyak 1,01 juta orang dan jumlah yang sembuh sebanyak 25,4 juta orang atau 74,4%. Pandemi ini diperkirakan akan semakin lama mencapai fase akhir dan diprediksi menyerupai kasus flu spanyol (tahun 1918-1919). Setidaknya terdapat beberapa negara yang mengalami second wave (gelombang kedua) pandemi ini, seperti Amerika, Jepang dan Australia. Adanya signal second wave di beberapa negara disebabkan mulai relaksasi kebijakan lock down. Namun di sisi lain aktivitas ekonomi dunia mulai membaik akibat relaksasi lockdown di beberapa negara. Salah satu indikator untuk mengukur perbaikan aktivitas ekonomi ialah dengan menggunakan variable PMI (Purchasing Manager’s Index) Gabungan antara PMI Manufaktur dan PMI Jasa. PMI adalah indikator ekonomi yang dibuat dengan melakukan survey terhadap sejumlah purchasing manager di berbagai sektor bisnis. Indeks yang paling diperhatikan investor dan analis adalah untuk sektor manufaktur yang disebut indeks PMI Manufaktur dan sektor jasa yang disebut indeks PMI Jasa. Indeks PMI Manufacturing dianggap investor di sektor ini sebagai leading indicator bagi keadaan perekonomian secara keseluruhan sehingga bisa diperoleh gambaran mengenai hasil penjualan, upah tenaga kerja, persediaan barang dan tingkat harga. Indeks PMI Manufaktur yang turun menunjukkan tingkat permintaan konsumen yang melemah dan bisa disimpulkan perekonomian sedang melambat (slow down). Sebaliknya jika angka indeks naik berarti para purchasing manager optimis akan prospek sektor manufaktur kedepan yang berarti perekonomian sedang tumbuh. Nilai PMI > 50 menunjukkan negara tersebut berada pada zona ekspansi, sedangkan nilai PMI < 50 menunjukkan negara tersebut berada pada zona kontraksi. Adapun perkembangan PMI Gabungan Global beberapa bulan terakhir paska Covid-19:

Dari hasil grafik di atas, dapat disampaikan bahwa posisi awal pandemi mulai muncul di bulan Februari 2020, PMI mengalami penurunan, dan mengalami titik terendahnya pada bulan April 2020, hal ini menandakan adanya pesimisme dari pelaku usaha yang merujuk pada perekonomian yang melambat, sedangkan pada bulan berikutnya menunjukkan trend perbaikan sejalan dengan adanya relaksasi kebijakan lockdown dan relatif posisi Agustus membaik dengan nilai mencapai PMI sebelum saat pandemi.

Namun kondisi global tersebut tidak sejalan dengan yang terjadi di Indonesia, adanya peningkatan mobiliisasi penduduk Indonesia sebagai akibat dari pelonggaran kebijakan PSBB, tidak serta merta mendorong perbaikan perekonomian di Indonesia.

Mobilitas penduduk Indonesia mulai mendekati situasi sebelum pandemi. Dari data tersebut, selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) aktivitas warga banyak dilakukan di area perumahan. Namun trennya semakin berkurang setelah terjadi pelonggaran. Peningkatan aktivitas tertinggi terutama terjadi di daerah wisata, taman bermain, pertokoan, hingga tempat kerja. Namun jika dilihat dari indikator makro ekonomi, pelonggaran yang dilakukan pemerintah, belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perekenomian, yang dapat dilihat dari beberapa indikator seperti: (1)PMI, (2)Inflasi, (3)Indeks Penjualan Ritel dan (4) Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

  1. PMI

Tabel 2. PMI Indonesia

Sumber: BI.go.id

Dari tabel di atas, paramete PMI Indonesia masih <50 (kontraksi), berbeda dengan global yang telah ada pada posisi ekspansif. PMI Indonesia tercatat sebesar 47 pada September 2020. Nilai tersebut turun 4 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 50,8.

  1. Inflasi

Inflasi mengalami tren penurunan dan titik terendah selama setahun terakhir berada di bulan Agustus 2020. Meskipun mengalami bullish pada bulan September 2020 namun belum kembali pada kondisi sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa kondisi permintaan dan konsumsi masih lemah dan belum pulih.

Grafik.3 Inflasi

Sumber: BI.go.id

Tingkat inflasi yang rendah ini disebabkan oleh rendahnya harga bahan pangan, dan konsumsi masyarakat.

  1. Indeks Penjualan Ritel

Tabel 3. IPR Indonesia

Sumber: BI.go.id

Permintaan masih lemah dan belum pulih tercermin dari penjualan ritel yang masih kontraksi posisi Juli 2020 sebesar -12% yoy dibandingkan dengan Juli 2019 yang sebesar 221. Keadaan ini tentu menyebabkan risiko dari sisi permintaan. Makin lemahnya permintaan domestik, akan mengakibatkan tidak ada insentif untuk perusahaan-perusahaan berproduksi, sehingga menyebabkan tekanan terhadap perekonomian (resesi ekonomi makin dalam).

  1. IKK

Grafik 4. IKK 2019 dan 2020

Indeks Keyakinan Konsumen 2020 turun dibandingkan 2019 meskipun sempat terjadi bullish pada bulan Juni 2020 namun belum bisa mengembalikan ke posisi saat sebelum pandemi. Bahkan IKK September 2020 sebesar 83,4, lebih rendah dibandingkan 86,9 posisi Agustus 2020, dan masih berada dalam zona pesimis (IKK<100). Lemahnya keyakinan konsumen mempengaruhi asumsi belanja dan pemulihan ekonomi.

Dari beberapa indikator tersebut menunjukkan bahwa kondisi perekonomian Indonesia masih belum pulih. Dengan mempertimbangkan beberapa indikator tersebut dan memperbandingkan kondisi perekonomian domestik dengan konsisi global, dikhawatirkan kemungkinan adanya second wave di Indonesia (yang terlihat dari peningkatan jumlah kasus positif dan meninggal akibat covid-19) akan mengakibatkan perekonomian Indonesia makin terpuruk, sehingga dalam hal ini peran seluruh pihak sangat dibutuhkan untuk mendorong perbaikan dari segi bisnis maupun kesehatan, agar dapat meminimalkan seluruh potensial risk yang bisa saja muncul.

 

Author: Wahyu Firmandani

Sumber lainnya :
worldmaters.info
https://id.tradingeconomics.com/world/indicators